Yuk, Main-main ke Kampung Rencong Aceh

  • admin

Menginjakkan kaki ke Tanah Rencong terasa kurang lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh rencong sebagai souvenir. Senjata tradisional Aceh ini memiliki bentuk yang khas dengan pola gagang yang sangat unik. (Lihat: [FOTO]: Kampung Rencong, Destinasi Wisata Baru Aceh Besar)

Terlepas dari bentuk fisiknya, senjata rencong memiliki makna dan filosofi yang sangat tinggi. Di masa lalu, pahlawan perempuan Aceh, Cut Nyak Dhien, menggunakan rencong untuk menikam Pang Laot, karena telah berkhianat dan berpihak pada Belanda.

Menemukan rencong sangatlah mudah, para wisatawan tinggal membelinya langsung ke toko-toko penjual souvenir di seluruh Aceh. Tapi, jika Anda penasaran dengan proses pembuatannya, main-mainlah ke Kampung Rencong. Kita akan melihat bagaimana proses pembuatan rencong dari awal sampai akhir hingga menjadi souvenir yang cantik.

Kampung Rencong adalah nama yang dipopulerkan untuk Gampong Baet Lampuot di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar. Gampong atau desa ini dikenal sebagai sentra kerajinan rencong yang telah berlangsung turun temurun. Hampir semua warga di gampong ini berprofesi sebagai pengrajin rencong selain bertani.

Sejak pertengahan 2014, Baet Lampuot menjadi desa binaan Unsyiah melalui Program Hibah Bina Desa yang dimenangkan mahasiswa Unsyiah. Melalui program ini ada tiga hal yang ingin dicapai yaitu menjadikan Baet Lampuot sebagai destinasi wisata baru di Aceh Besar, pengentasan kemiskinan sekaligus penyelamatan rencong sebagai senjata tradisional Aceh.

“Di kampung ini ada sembilan dapur rencong yang telah kita revitalisasi,” ujar Dian, tim Kampung Rencong Unsyiah, yang menemani saya berkeliling Kampung Rencong kemarin, Rabu 10 Desember 2014.

Dian dan rekannya Salwa mengajak saya mampir ke dapur milik Ibrahim Abbas. Dapur ini berada tepat di depan kompleks meunasah. Di depan dapur milik pria yang akrab disapa Bram ini, terdapat sebuah plang bertuliskan Gampong Binaan BEM Universitas Syiah Kuala 2014.

Bram salah satu pembuat rencong yang cukup senior di kampung itu, pria berumur 50 tahun itu mulai melakoni profesi itu sejak usia delapan tahun. “Saya tidak bersekolah, dari kecil sudah membuat rencong,” kata Bram sambil tersenyum.

Bram tidak membuat produk jadi, melainkan hanya sebatas mencetak rencong saja. Rencong-rencong yang sudah dicetak Bram ia jual ke pengrajin lain. Di dapur milik Bram saya melihat ada banyak tumpukan besi, kuningan, baut dan mur, juga berbagai peralatan seperti mesin pemotong logam, dan cetakan rencong. "Membuat rencong dari besi putih lebih sulit dari bahan kuningan, besi putih lebih keras," kata Bram lagi.

Beranjak dari dapur milik Bram, kami mengunjungi beberapa dapur lain. Terlihat para pengrajin yang sibuk menggerus gagang rencong, ada juga sedang yang mengilatkan mata rencong. Mereka terlihat sangat telaten. Mereka semua menjadi pengrajin rencong sejak usia belia.

Kami juga mengunjungi salah satu rumah warga yang memproduksi aneka kerajinan Aceh lainnya selain rencong.

“Kalau yang laki-lakinya di sini bekerja sebagai pengrajin rencong, yang perempuan membuat kerajinan seperti tas dan dompet,” kata Salwa.

Terakhir, Salwa dan Dian mengajak saya ke galery mereka di kompleks meunasah. Ruang galeri itu sangat mungil, seluruhnya dicat warna jingga sehingga memberikan efek cerah dan meriah. Ada sepuluh partisi untuk memamerkan berbagai jenis foto rencong. Semua foto-foto itu memiliki keterangan.

Walaupun Kampung Rencong belum diluncurkan, namun desa ini sudah sering dikunjungi wisatawan, khususnya wisatawan lokal.

"Mereka teman-teman kami, saya juga pernah membawa dosen ke sini," kata Dian.[]

related posts