Mengenal To'et, si Pencipta Syair Urang Uten yang Dibaca Kautsar di DPR Aceh

  • admin

CEH To'et atau bernama asli Abdul Kadir cukup terkenal seantero Gayo.  Dialah Ceh yang dikenal unik. Dan satu hal penting, dimanapun To'et berada kerap menjadi hiburan, tidak peduli dihadapan pejabat dan orang asing, peran seni To'et  memang menghibur.

"Saat kami di puncak genting, Gayo Lues, beliau juga berdendang. Dimana ada almarhum kala itu pasti bersenandung, menari dan menghibur," kata murid Ceh To'et, Hidayah, yang cukup mengasai llagu-lagu Ceh  To'et.

Hidayah merupakan seniman perempuan dan istri seniman LK Ara yang punya komitmen kuat mempertahankan seni tradisional  Gayo.

Bagi Gayo To'et itu aset seni yang tinggi, namun ditingkat provinsi dia juga aset. Adalah Almarhum Ali Hasyimi orang pertama yang menyumbangkan alat dengar kepada seniman To'et, sehingga kala itu, To'et dapat mendengar dengan jelas.  "Teungku Ali Hasyimi tertarik dengan gaya sastra To'et," ujar Hidayah lagi.

Diceritakan, lagu Bongkar yang dinyanyikan kelompok musik Swami (Iwan Fals, Sawung Jabo,WS Rendra, Setiawan Jodi,dan Innisisri) merupakan lagu yang terinspirasi dari syair milik To'et, Bungkeratau dalam bahasa Indonesia disebut Bungker.  Kala itu, To'et bertemu Setiawan Jodi dan WS Rendra di kediaman Setiawan Jodi, Slipi, Jakarta Barat. To'et bersenandung dan menggerakan bahu layaknya "Rajawali", dan keluarlah penekanan pada syair "Bungker".

Tidak sampai disitu, WS Rendra pada kesempatan lain lalu menyebut To'et sebagai penyair titisan Dewa dari surga Firdaus yang kuat mempertahankan tradisi Gayo.

"Lagu-lagu almarhum kebanyakan bercerita tentang alam dan  politik. Beliau juga seorang Rodi di masa Jepang yang kemudian dicatatnya dalam sebuah lagu Didong berjudul Lumut," kata Mak Dayah, sebutan akrab  untuk Hidayah.

Syair lagu Lumut berkisah tentang pekerja rodi masa jepang yang dipaksa untuk membuka  jalan Gayo antara Aceh Tengah dan Gayo Lues. Dalam syir tersebut To'et berkisah kejamnya jepang dan sedihnya rakyat yang dipaksa bekerja.lagu tersebut kemudian diabadikan khusus dalam album Gayo fenomenal SABA Group.

Kebiasaan To'et apabila tampil selalu menggunakan seperangkat rantang dan akordion 8 tut untuk musik pengiringnya. Bukan cuma untuk masyarakat luar, bagi masyarakat Gayo pun menganggap penampilan To’et sebagai penampilan langka lantaran penampilan solonya yang unik. Biasanya To’et tampil berdidong bersama klub Didong Siner Pagi.

Abdul Kadir alias To’et, seniman hebat wafat 25 Mei 2004 silam gara-gara sakit, dan dimakamkan di Weh Nareh, Pegasing, Aceh Tengah.[]

related posts