Ketika Tarzan Gagal Menjaga

  • admin

Tarzan malu karena gagal menjaga "belantara" Srimulat. Padahal, dialah sosok yang kerap tampil gagah ala militer. Rekannya, Tessy diciduk polisi karena kasus narkoba. Sebelumnya, ada juga "penghuni" Srimulat yang terkena kasus yang sama, yaitu Gogon, Polo dan Doyok.

Mengapa Tarzan gagal? Mengapa "penduduk" Srimulat terjerumus dalam kasus narkoba? Adakah hubungannya dengan dunia lawakan yang kritis karena saat ini semua orang sudah menjadi pelawak, dan lebih lucu dari lawakan Srimulat?

Lihatlah DPR. Akting politik terkini mereka makin lucu saja. Setelah kalah dengan KMP, kini KIH buat Pimpinan Tandingan. Bisa dibayangkan bagaimana lucunya skenario lawakan politik ke depan hahaha.

Lawakan politik ini bisa jadi mengalahkan lawakan politik di masa Gus Dur. Saking lucunya, Gus Dur lantas menyebut mereka sebagai anak TK. Puncak kelucuan politik akhirnya berakhir dengan kejatuhan Gus Dur.

Bisa dibayangkan betapa tingginya rating dunia layar kaca saat itu. Berjam-jam pemirsa bersedia menatap layar lebar hanya untuk melihat lawakan politik yang ditutup dengan gambar keluarnya Gus Dur dari istana bercelana pendek.

Kini, para pelawak sesungguhnya harus berani istirahat bila tidak cukup kreatif dan berani. Jika pun punya agenda lawak hebat tetap harus menunggu ada televisi yang mau menayangkan. Itupun belum tentu dapat honor tinggi.

Tapi, di dunia lawakan politik eksekutif dan legislatif, televisi malah memburu akting mereka. Menayangkan live, mengulang-ulang, bahkan ada yang menampilkan dengan agende setting tayangan sendiri.

Para pelawak eksekutif dan legislatif tidak perlu dibayar oleh televisi. Mereka sudah dibayar oleh negara dengan bayaran yang bisa berkali lipat dengan apa yang bisa didapatkan para pelawak Srimulat.

Dengan modal cengengesan, usai dipoles media, publik pun menontonnya dengan penuh takjub. Bahkan pemerannya diasosiasikan sebagai ratu adil, wali, satria piningit, pandawa, dan lainnya.

Melalui jasa polesan media, dunia lawakan politik, juga dilengkapi dengan tokoh jahat. Publik pun dengan senang hati mengutuk, mengumpat, dan menghina. Persis seperti nasib pemeran Karin si Hello Kitty pengganggu rumah tangga orang itu. Lihatlah ekspresi penonton yang kesel dengan Karin tapi ujungnya malah tertawa haha.

Saking kerennya dunia lawakan politik yang terus disiarkan media efeknya juga terbawa ke ruang sosial dan keluarga. Ada teman tidak lagi temanan. Ada keluarga yang pecah belah. Ada kampung jadi berbeda dengan kampung tetangga dan lainnya.

Coba deh lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah saat ini di suasana batinnya. Mungkin pemimpin dua ormas ini bisa saling menutupi. Tapi, lihatlah ekspresi jamaahnya. Ada ekspresi yang tidak enakan usai kabinet terbentuk. Ini kelucuan politik yang baru terjadi di sepanjang sejarah lawakan orde reformasi.

Memang sih levelnya lucu, bukan horor sebagaimana masa orla dan orba. Kini, dunia akting horor kembali hidup. Sementara dunia akting lawak terus meredup. Dan akhirnya, sejumlah personilnya yang tidak kuat pikiran dan hati terjebak dalam kebingungan yang berujung narkoba.

Ya, Tarzan pantas sedih, malu, dan merasa gagal. Tapi ya salah mereka juga sih. Andai mereka dari dulu membuat hak paten maka lawakan hanya boleh di dunia para pelawak, bukan di dunia politik. Apakah dunia sudah terbalik? Tidak. Kitalah yang membolak balik diri kita hingga pening sendiri dan akhirnya kita sambut dengan tertawa hahaha. []

Pembina Generasi Kuneng (Gen-K) Aceh

related posts