Garam Cinta Lamnga

  • admin

GUBUK kecil itu terletak di Ujung Aron, Gampông Lamnga, Masjid Raya, Aceh Besar. Beralaskan tanah, ruangannya laksana dapur besar yang memakan tempat seperempat gubuk seluas 3 x 3 meter. Terbuat dari batu-bata di atasnya, ada seng tebal seperti ember lebar yang di dalamnya air.

Dipanasi dengan kayu bakar, asap putih mengepul dari atap rumah yang dari anyaman daun kelapa. Pemiliknya Bustamam. Ia bukan sedang memasak air, melainkan itu adalah asin yang sedang digodok untuk memproduksi garam. Di sekeliling wadah tadi terlihat butir-butir garam memutih. Sebahagian masih kuning.

Di luar gubuk, Bustamam tampak memikul air dalam jeriken kuning. Baju kemejanya kusam dengan bagian dada dibasahi air bercampur keringat. Kendati rambutnya telah memutih, ototnya masih kekar. “Mau beli garam?” dia bertanya kepada wartawan The ATJEH yang melihat aktivitasnya pada awal November 2013.

Bustamam adalah satu dari sekian banyak petani garam di gampông Lamnga. Di dekat gubuk Bustamam, masih ada lagi tempat produksi garam.

Lamnga berjarak 12 kilometer sebelah timur Banda Aceh. Ujung Arun terletak sebelah kiri jembatan Lamnga. Dahulunya Lamnga masuk dalam Mukim 13 Sagi 26.  M. Ali Ibrahim, Keuchik Gampông Lamnga, mengatakan sejak dahulu Lamnga memang terkenal dengan garamnya. 

“Ujung Arun dulunya adalah pemukiman penduduk. Bahkan beberapa tokoh Aceh berasal dari sini, seperti Teuku Ujong Arun,” kata katanya. Teuku Ujong Arun yang juga dikenal dengan sebutan Imam Lamnga adalah bangsawan Aceh yang berjaya di abad ke-18. Kekuasaannya luas hingga ke Pulau Weh.

Putranya bernama Teuku Ibrahim Lamnga Pasi. Dia inilah yang dijodohkan dengan putri jelita anak Teuku Nanta Muda Seutia yang adalah Ulèe Balang Mukim 6 di Lampadang, Aceh Besar. Dialah Cut Nyak Dhien yang lahir pada 1848. “Sejak dijodohkan dengan Cut Nyak Dhien, Teuku Ibrahim selalu datang ke sini seminggu sekali dari Lamnga Pasi,” ujar Cut Aisyah, 52 tahun, warga Desa Lampadang, Peukan Bada, Aceh Besar.

Cut Aisyah masih ingat benar cerita kakeknya Cut Nana –kerabat Cut Nyak Dhien -- tentang Cut Nyak Dhien dan Teuku Ibrahim Lamnga. Diceritakan, Ibrahim Lamnga mengendarai kereta kuda setiap hari mengunjungi rumah calon mertuanya. “Ia selalu membawa oleh-oleh untuk Teuku Nanta berupa sira (garam) Lamnga,” kata Aisyah.

***

DIKISAHKAN dalam buku M.H. Szekely-Lulofs, penulis dan jurnalis Belanda, yang pernah bertugas di Sumatera Utara, pernikahan Teuku Ibrahim Lamnga Pasi dengan Cut Nyak Dhien berlangsung meriah.

Para laki-laki dan perempuan masa itu sibuk membersihkan alun-alun gampông. Ada yang menghias, menanak nasi, hingga memotong hewan untuk santapan pada hari kenduri nantinya. Aktivitas dipusatkan di rumah panggung besar dengan corak khas Aceh.

Di depan halaman dipasang berlapis-lapis pintu gerbang yang terbuat dari bambu dengan hiasan daun-daun beringin, daun nyiur, kain-kain berwarna, dan sebagainya. Juga aneka bunga yang harumnya semerbak.

Lantai di dalam rumah ditutupi tikar dan permadani yang indah. Perhiasan, benda pusaka yang indah-indah dikeluarkan dari petinya, lalu dipajang sehingga menambah keindahan. Ruang tidur pengantin pun dihias dengan tidak kalah indahnya. Kelambu, seprai, dan bantalnya berkain sutra.

Teuku Ibrahim dan Cut Nyak Dhien duduk bersanding di pelaminan. Ibrahim yang gagah, wibawa, serta piawaian dalam berperang disandingkan dengan dara cantik jelita yang menjadi pujaan hati para pemuda 6 Mukim.

Hari itu, Cut Nyak Dhien resmi menjadi istri Teuku Ibrahim. Pesta di rumah Nanta diadakan selama 3 hari 3 malam.

Dalam rangka memeriahkan pernikahan putrinya, ayah Cut Nyak Dhien bahkan mengundang Do Karim (Abdul Karim). Do Karim, seorang penyair terkenal pada masa itu diundang untuk membawakan syair-syair keagamaan serta aksi heroik untuk menggugah semangat masyarakat Aceh melawan Kafir (Snouck Hurgronje, 1985:107).

Di malam hari, Cut Nyak Dhien memakai pakaian pengantin dan duduk bersanding dengan suaminya sampai larut malam.

Ketika pesta pernikahan itu berlangsung, Cut Nyak Dhien masih berusia 12 tahun. Masih sangat muda. Itulah sebabnya, pada malam usai pesta, pengantin baru ini tidur ditemani pesumandan yang tugasnya “berjaga-jaga” dari hal-hal yang belum diperbolehkan secara adat.

Teuku Ibrahim diperbolehkan menginap di rumah Teuku Nanta selama 7 hari 7 malam. Kemudian kembali ke rumah orang tuanya di Lamnga dengan tetap mengunjungi Cut Nyak Dhien seminggu sekali. Tentu saja, setiap berkunjung, Teuku Ibrahim selalu membawa garam Lamnga.

Suami istri ini baru diperbolehkan berkumpul setelah umur Cut Nyak Dhien dianggap layak dan pantas secara adat dan hukum Islam.

Sebelum masa-masa tersebut, Cut Nyak Dhien secara terus-menerus mendapat bimbingan dari orang tuanya tentang rumah tangga, seperti memasak dan melayani suami. Teuku Nanta Muda Seutia yang mengajarkan ilmu agama dan kondisi Aceh pada masa itu.

Sifat Teuku Ibrahim yang alim serta lulusan Dayah Bitay juga ditularkan ke Cut Nyak Dhien. Selain itu, kekompakan Teuku Nanta Muda dan Ibrahim Lamnga dalam memandang keberadaan Belanda di Aceh juga mempengaruhi pola pikir Cut Nyak Dhien.

Dari sinilah benih-benih cinta Cut Nyak Dhien kepada Teuku Ibrahim bertambah dan berkembang seiring waktu. Teuku Ibrahim yang piawai berperang juga sering mengajarkan istrinya bermain pedang.

Ketika mereka kemudian diperbolehkan berkumpul, Teuku Ibrahim mempersembahkan pedang emas berhiaskan intan untuk Cut Nyak Dhien.

Namun sayang resepsi pernikahan megah ini tak tertera tanggal dan bulannya. Hanya disebut berlangsung pada 1862.

Pada 26 Maret 1873, atau 11 tahun setelah Teuku Ibrahim dan Cut Nyak Dhien menikah, Belanda menyatakan perang dengan Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Teuku Ibrahim dan mertuanya, Teuku Nanta Muda Seutia menjawabnya dengan pertempuran. Ibrahim memimpin pasukan di Lamnga untuk menggempur Belanda di daerah pesisir Aceh.

Pada saat itu, Teuku Ibrahim berhari-hari meninggalkan istri, Cut Nyak Dhien. Tiap malam, Cut Nyak Dhien selalu mendengungkan pesan-pesan agama berupa syair kepada anaknya.

Hai buyung, hai anakku tersayang. Laki-laki engkau, ayahmu dan datukmu laki-laki pula, perlihatkanlah kejantananmu, orang kafir hendak menjajah kita, hendak mengganti agama kita dengan agamanya, agama kafir…pertahankan hak kita orang Aceh, pertahankan agama kita agama Islam.

“Wahai anakku, turutlah jejak ayahmu, Teuku Ibrahim Lamnga, sekarang dia tidak ada di rumah, tetapi janganlah engkau menyangka bahwa ayahmu sedang mengumpulkan kawan buat menyambut kedatangan kafir, tetapi akan mengusirnya ke luar tanah Aceh.” (H.M Zainuddin, 1966 : 62-63).

Pada akhir Desember 1875 daerah kekuasaan Nanta Setia, yaitu VI Mukim digempur Belanda. Nanta Muda Seutia dan Ibrahim Lamnga berjuang mempertahankan daerah IV Mukim, tetapi terpaksa mundur.

Kaum wanita, termasuk Cut Nyak Dhien, mengungsi ke daerah Biang Kala. Di sinilah Cut Nyak Dhien bertemu suaminya untuk terakhir kalinya.

“…Mengungsilah! Semoga Tuhan melindungimu! Tujuh puluh pengawal bersenjata aku tinggalkan untuk mengawanimu. Sekalian mereka itu adalah kawan-kawan terpilih yang setia. Sekiranya kita tidak bertemu, kawan yang tujuh puluh orang itulah yang akan bersamamu berjuang di jalan Allah…”

Itulah pesan akhir Ibrahim Lamnga pada Cut Nyak Dhien.

Dua setengah tahun kemudian, Ibrahim Lamnga kembali terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda. Ia wafat di Gle Tarum, pada 29 Juni 1878. Teuku Ibrahim dimakamkan di Desa Lamnga, Montasik.

***

TEUKU Umar masih berusia 20 tahun, tetapi beristri dua. Yang satu bernama Nyak Sofiah, anak Ulee Balang Glumpang, yang kedua adalah Nyak Malighai, putri Panglima Sagi XXV Mukim. Dua istrinya itu belum mampu menghentikan keinginan Umar untuk menaklukkan hati Cut Nyak Dhien yang sudah menjanda.

Bukan perkara mudah bagi Umar untuk mewujudkan keinginannya. Sebab, Cut Nyak Dhien sangat berduka dengan wafatnya Teuku Ibrahim. Dia juga sudah bersumpah hanya mau menikah lagi dengan pria penerus perjuangan suaminya.

Perjuangan Teuku Umar untuk menaklukkan hati Cut Nyak Dhien sangat panjang. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan, beberapa kali Teuku Umar mencoba melamar Cut Nyak Dhien.

"Saya bersedia menjadi panglima perang pasukan ini. Namun, dengan syarat Cut Nyak Dhien bersedia menjadi istri saya," kata Umar.

Cut Nyak sangat terkejut mendengar pernyataan Umar, lamaran tersebut ditolak Cut Nyak mentah-mentah. Umar hanya dapat menarik nafas panjang mendengar penolakan itu, hanya itu yang dapat ia lakukan setelah mendengar cintanya ditolak Cut Nyak.

Walau sempat dikecewakan, semangat Umar berusaha untuk mendapatkan cinta Cut Nyak tidak kandas begitu saja. Saking besar cintanya itu, akhirnya Umar membuat sebuah adegan (rekayasa). Itu rela ia lakukan hanya demi mendapatkan perhatian Cut Nyak Dhien. Namun kebenaran cerita ini masih diperdebatkan.

Suatu hari, Seperti biasanya Cut Nyak Dhien sedang melatih pasukan berpedang. Tiba-tiba di hadapannya lewat begitu banyak orang, dan beberapa di antaranya mengangkat tandu, segera Cut Nyak lari mendekat, dan menghentikan mereka.

Pak?n nyoe? (kenapa ini?)” tanya Cut Nyak Dhien. Ia melihat Teuku Umar di atas tandu berdarah-darah hampir meninggal.

Lôn meu jak woe (saya mau pulang),”  jawab Teuku Umar.

Bèk, tapeu-ubat dilèe nyoe. Meusti tapeu-ubat dilé. Bèk putôh asa. (Jangan, kita obati dulu, harus kita obati ini, jangan putus asa begitu),” kata Cut Nyak Dhien dengan nada gelisah.

Bah maté lôn, Cut Nyak tulak cinta lôn (Biar saya mati saja, Cut Nyak pun menolak cinta saya),” kata Teuku Umar dengan nada putus asa.

Tapeu-ubat nyoe dilè, euntreuk tapeubuet nyan (kita obati ini dulu, nanti baru kita urus yang itu ),” jawab Cut Nyak Dhien meyakinkan Umar.

Hana peu, Cut Nyak jôk mant?ng ubat nyan keu lôn (Tak apa, Cut Nyak berikan saja obat itu untuk saya),” kata Teuku Umar.

Setelah beberapa hari kemudian, Teuku Umar pun sembuh dari luka "tipu-tipunya." Umar pun datang menagih janji pada Cut Nyak Dhien.

Cut Nyak kaleuh meujanji ng?n lôn k?n? (Cut Nyak sudah berjanji dengan saya kan?)” kata Umar.

Pada satu waktu, Cut Nyak Dhien penasaran dengan luka yang pernah dialami Teuku Umar. Karena penasaran, ditelitilah oleh Cut Nyak bekas luka yang ditusuk Belanda hingga berdarah-darah tempo hari.

Ampôn, pat luka ditusôk lé Belanda sampoe meudarah-darah watèe nyan? (Ampon, di mana luka ditusuk Belanda sampai berdarah-darah waktu itu?)” tanya Cut Nyak Dhien. Teuku Umar hanya tersenyum tertunduk.

Hana nyan!, nyan k?n bah Cut Nyak tém ng?n lôn (Tidak, kan itu agar Cut Nyak mau nikah dengan saya),”  jawab Teuku Umar tergelak tawa.

Ka jitipè lôn lé Ampon nyoe lagoe (Sudah ditipunya saya rupanya)” kata Cut Nyak.

Singkat cerita, sejak 1880, Teuku Umar benar-benar memenuhi harapan Cut Nyak Dhien untuk meneruskan perjuangan Teuku Ibrahim Lamnga dalam melawan Belanda. Di tahun yang sama, Cut Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar. Teuku Umar adalah anak dari pamannya yang lahir pada 1854 atau lebih muda dari Cut Nyak Dhien sekitar 6 tahun.

Sayangnya, pada 1883, Teuku Umar justru bergabung dengan Belanda. Hal ini akhirnya membuat Cut Nyak Dhien kembali terluka.

Beberapa kali Teuku Umar terlibat pertempuran dengan pasukan Aceh yang masih melawan Belanda.

Sikap Teuku Umar ini mendapat kecaman dari pejuang Aceh. Salah satunya adalah Teungku Fakinah, pemimpin pasukan perempuan pejuang Aceh. Hal ini diketahui dari surat Teungku Fakinah kepada Cut Nyak Dhien.

"Saya harap Cut Nyak agar menyuruh suami Cut Nyak, Teuku Umar, untuk memerangi wanita-wanita yang sudah siap menanti di Kuala Lamdiran (maksud Resimen Fakinah), sehingga akan dikatakan orang bahwa dia adalah panglima yang berani, Johan Pahlawan seperti yang digelar oleh musuh kita Belanda."

Sindiran yang sangat tajam dari Teungku Fakinah sangat menyengat perasaan Cut Nyak Dhien. Lewat Do Karim, Cut Nyak Dhien mengirim surat kepada suaminya, yang antara lain berbunyi:

"Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada Teuku Umar, bahwa Teungku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangan Teuku Umar di Lamdiran. Sekarang barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi pria lawan wanita, yang belum pernah terjadi pada masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dahulu kuperingatkan: janganlah engkau menyusu pada badak."

Surat menyurat ini diceritakan dalam buku wanita Aceh dalam pemerintahan dan peperangan, karya Muhammad Ali Hasymi, 1997.

Rupanya, surat sindiran Teungku Fakinah dan Cut Nyak Dhien membuat malu Teuku Umar. Pada 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dolar. Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang Aceh melawan Belanda.

Bahkan, pada 11 Februari 1899, pasukan Teuku Umar bertempur mati-matian di pinggir Meulaboh. Dalam pertempuran ini, Teuku Umar wafat. Jenazahnya dimakamkan di Masjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh.

Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak Dhien mengambil alih komando. Dia langsung memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Aceh Barat.

Pasukan ini terus bertempur sampai pada 1901. Saat itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun. Ia terkena penyakit encok. Jumlah pasukannya pun terus berkurang, serta sulit memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukannya.

Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laôt melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba kepada Cut Nyak. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Kutaradja (Banda Aceh). Setelah dirawat, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Ia dibawa ke Sumedang bersama tahanan politik Aceh. Di Sumedang, Cut Nyak Dhien disapa Ibu Perbu (Nyi Ratu).

Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dhien pun wafat. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada 1959. "Ibu Perbu" diakui Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.

***

HARI mulai senja ketika wartawan The ATJEH meninggalkan hamparan garam di Lamnga. Para petani garam di sana juga mulai meninggalkan aktivitasnya. Garam Lamnga telah menyimpan cerita cinta Cut Nyak Dhien.

“Namun sayang yang menjadi petani garam kini sudah sangat sedikit. Kalau pun ada, itu adalah warga desa tetangga yang memiliki lancang di daerah ini,” kata M. Ali. Beberapa titik yang masih terdapat petani garam di Lamnga adalah diUjung Arun, Lam Kuta, dan Beuladeh.[]

related posts