Cerita Babi dan Monyet di Bukit Elit Arun

  • admin

Mobil yang dikemudikan Bukhari, pemuda asal Nisam yang telah 10 tahun bekerja sebagai supir di PT Arun, melaju di atas badan jalan menanjak. Di kiri kanan jalan, berjejer pohon-pohon, dikelilingi ilalang nan menjulang.

Tiba di atas, Bukhari menghentikan laju mobil. Sunyi menyergap. Dan, inilah pemandangan yang tersaji: rumah-rumah kosong yang dikelilingi ilalang hingga ke terasnya. Di beberapa rumah, atap plafon bagian luar telah terkoyak. Suram. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

“Beginilah kondisi sekarang. Sudah beberapa tahun tempat ini sepi karena karyawan telah jauh berkurang,” kata Bukhari.

Suatu sore pertengahan September lalu, Bukhari membawa saya ke jalan Tarakan, salah satu ruas jalan di komplek perumahan PT Arun. Berjarak hanya beberapa kilometer di barat kilang pengolahan gas, perumahan itu berada di atas kawasan perbukitan Batuphat.  Dari atas bukit, tanki raksasa tempat penampung gas alam cair terlihat jelas.

“Saya sering berpapasan dengan kawanan babi liar yang melintas di badan jalan. Pernah jumlahnya sampai dua belas ekor,” kata Bukhari.

Selain babi, kata Bukhari, monyet-monyet, bahkan ular kerap ditemui di komplek perumahan.

Kondisi ini terjadi setelah Arun mengurangi karyawan awal tahun 2000-an, ketika sebagian besar karyawan diberhentikan lantaran pasokan gas dari ladang Exxon kian menipis.

Di kompleks perumahan itu, tersedia aneka ragam fasilitas kelas atas: lapangan golf, kolam renang, sekolah, rumah sakit, stadion olahraga, hingga Executive Club tempat para tamu istimewa diinapkan. Kini, sebagian besar fasilitas itu tak terawat.

Memang, tak semua bagian dari kompleks perumahan itu telah ditinggal penghuninya.  Staf Humas Arun, Teuku Eddy Safari Tiba mengatakan, dari sekitar 1.000 unit rumah, yang dihuni tak sampai separuhnya.

Di bagian lain kompleks, seorang lelaki bernama Tanda Bani Basu sedang menunggu pensiun dua bulan lagi. Mulai bekerja di sana sejak umur 23 tahun, ia pensiun pada usia 56 tahun. “Sebagian besar rekan kerja saya sudah pensiun. Dua bulan lagi giliran saya,” kata lelaki keturunan India itu sambil tersenyum.

Bani ingat benar, dulunya komplek perumahan itu adalah kawasan hutan yang dihuni monyet dan babi hutan yang sempat menghilang ketika perumahan itu berdiri.

Kini, binatang-binatang liar itu kian sering muncul di kompleks perumahan, seiring redupnya api gas flare di kilang Arun.  Jumlahnya bisa saja bertambah banyak bila riwayat Arun benar-benar tamat. [] 

(Artikel ini dimuat di Majalah The Atjeh (The Atjeh Post Group) Vol.I - Oktober 2013)

Artikel Terkait:
Masa Depan Arun

related posts