Bina Marga Lambat Atasi Longsor di Gayo

ANGGOTA DPR Aceh dari PKS, Bardan Sahidi menilai Dinas Bina Marga Aceh lambat mengatasi dampak longsor di lintas Aceh Tengah-Gayo Lues yang terjadi sejak 25 September lalu sehingga memunculkan persoalan serius terhadap angkutan barang dan orang dari dan ke pedalaman Aceh tersebut.

“Belum lagi tuntas penanganan di lintas Aceh Tengah-Galus, kini jalur Aceh Tengah-Nagan Raya via Beutong (Singgah Mata) juga putus. Semakin lengkap penderitaan masyarakat menjelang Idul Adha tahun ini,” tulis Bardan dalam siaran pers-nya yang diterima Serambi, Jumat (3/10).

Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Jalan Nasional Wilayah I Aceh, Zamzami mengatakan, untuk membersihkan bongkahan tanah dan batu yang menimbun badan jalan di Km 110-111 Tangsaran, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues (Galus), butuh waktu dua minggu lagi, jika tidak turun hujan. “Kalau setiap harinya turun hujan deras seperti dalam minggu ini, maka longsoran tanah dan batuannya bertambah, sehingga masa kerjanya bisa mencapai satu bulan,” kata Zamzami didampingi Kepala Dinas Bina Marga Aceh, Ir Anwar Ishak menjawab Serambi di Banda Aceh, Kamis 2 Oktober 2014.

Menurut Anwar Ishak, tebing badan jalan tersebut longsor pada 25 September 2014, kemudian materialnya menimbun badan jalan sepanjang 100 meter dengan ketinggian 20-40 meter. “Pihak rekanan yang sedang bekerja di ruas jalan tersebut, yaitu Wika-Pelita Jo, telah berusaha maksimal untuk membersihkan timbunan tanah dan batu yang jatuh dari pinggir tebing,” kata Anwar.

Meski sudah ada penjelasan seperti itu, namun menurut penilaian anggota DPR Aceh, Bardan Sahidi, penanganan dampak longsor di lintasan Aceh Tengah-Galus belum optimal. Bahkan menurut Bardan, alat berat yang dikerahkan hanya dua unit padahal titik longsor di ruas jalan nasional Blangkejeren (Galus)-Takengon (Aceh Tengah) di Tangsaran, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Galus, sangat banyak.

Menanggapi laporan Kepala Dinas Bina Marga Aceh, Ir Anwar Ishak yang menyebutkan pihaknya telah mengerahkan alat berat mencapai delapan unit untuk operasi pembersihan, menurut Bardan, alat berat milik kontraktor baru dikerahkan setelah media gencar memberitakan. “Material longsor yang dibersihkan dari arah Blangkejeren. Sedangkan dari arah Takengon baru ada dua alat berat (loder dan beko). Untuk pasok minyak alat berat saja harus didrop dari Katacane (Aceh Tenggara), kalau dari Tekngon (Aceh Tengah) sama sekali nihil,” lapor Bardan.

Pengalihan jalur melalui Medan, menurut Bardan Sahidi, meskipun itu solusi untuk keadaan darurat, namun sangat merugikan pengguna jalan karena jarak tempuh dan waktu yang panjang. “Yang sangat diharapkan masyarakat adalah pengerahan kekuatan secara penuh untuk membebaskan lintasan Galus-Aceh Tengah dari jebakan longsor,” demikian Bardan Sahidi.

 Timpa Kankemenag
Informasi lain, Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Gayo Lues (Galus) di Blangkejeren tertimpa longsoran dari tebing halaman Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) yang berada di bagian atasnya. Beberapa bagian Kankemenag sempat tertimbun meski sudah mulai dibersihkan.

Pantauan Serambi, Jumat (3/10), tanah yang amblas dari halaman Kantor Dinkes Galus menimpa bagian dinding belakang Kankemenag. Pada Jumat kemarin material longsor yang menimpun Kankemenag mulai dibersihkan menggunakan alat berat.

Longsoran juga menyebabkan halaman Kantor Dinkes tergerus beberapa meter, terutama pada areal parkir yang dipasang batu semen (paping blok).

Kakan Kemenag Galus, Drs Hasan Basri kepada Serambi mengatakan, longsoran terjadi sejak beberapa waktu lalu, tetapi semakin parah sejak beberapa hari terakhir akibat hujan lebat. Musibah itu sudah dilaporkan kepada Bupati dan BPBD Galus untuk penanganan secepatnya. | sumber: serambinews.com

related posts