Begini Kondisi Kompleks Perumahan DPR Aceh

  • admin

KOMPLEKS rumah Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) di Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar terlihat sepi, Rabu siang, 1 Oktober 2014. Di gerbang hanya terlihat dua petugas berjaga di pos keamanan. Satunya memakai seragam cokelat khas Satpol PP dan sisanya mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu khas polisi.

Sebuah bundaran dengan corak khas pintu Aceh menyambut tepat saat memasuki gerbang menuju perumahan dewan. Di sisi kiri jalan saat pertama kali memasuki kompleks terdapat lapangan voli. Letaknya hanya selemparan batu dari pos keamanan.

Setidaknya terdapat 69 unit rumah berjejer di sisi kiri dan kanan jalan saat memasuki kompleks ini. Rumah-rumah tersebut berlantai dua dengan warna krem dan beratap genteng merah.

Di kompleks ini terdapat satu unit masjid berlantai dua dengan kubah hijau berdiri kokoh di sisi kanan jalan. Letaknya hanya sekitar tiga ratus meter dari pos keamanan. Di dalam kompleks ini juga terdapat lapangan tenis yang pagarnya merambat tumbuhan liar. Letaknya bersisian dengan masjid.

Selain itu juga terdapat gudang tempat menyimpan generator listrik dan taman bermain bagi anak-anak.

Beberapa rumah yang terletak jauh di dalam kompleks terparkir mobil-mobil berplat merah. Selain itu juga terparkir satu unit mobil Pam Obvit plat I 127-28 di salah satu rumah dinas milik DPRA tersebut.

Beberapa rumah terlihat bersih dan rapi. Namun sebagiannya juga terlihat terbengkalai dan seperti tanpa penghuni. Ada beberapa rumah yang lengang dan lampu terasnya hidup meski jarum jam menunjukkan pukul 14.00 Wib.

Kotoran kelelawar menempel di dinding bangunan. Cat pagar mulai luntur dan rumput-rumput tumbuh lebat. Mungkin rumah-rumah inilah yang diusulkan untuk direhab oleh dewan.

Sebelumnya dilaporkan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) memperoleh informasi 81 anggota DPRA yang baru dikukuhkan tidak mau tinggal di rumah dinas DPRA. Mereka beralasan 69 unit rumah dinas yang sudah ada diminta rehab dulu dengan dana diusulkan dalam APBA Perubahan tahun ini sebesar Rp13 juta per unit.

Koordinator MaTA Alfian mengatakan konsekuensi jika rumah dinas DPRA direhab, Pemerintah Aceh harus mengalokasikan dana sewa rumah dinas kepada 81 anggota dewan baru. Berdasarkan informasi diperoleh MaTA, duit sewa rumah anggota DPRA diusulkan Rp80 juta per orang tiap tahun.

MaTA menilai dalam hal ini belum ada kepatutan penggunaan anggaran Aceh secara efisien.

"Bisa dibayangkan 13 juta per unit rumah dengan jumlah 69 unit dan ditambah 40 juta rehab rumah ketua. Belum lagi dewan akan "menagih" uang sewa rumah yang sekarang rata-rata sudah ditempati," ujarnya.

Alfian berharap dewan baru dengan pandangan baru memiliki "ketaatan" dalam menjaga amanah dan membangun Aceh ke depan.

"Jangan sampai hanya terjebak dalam pelestarian kekuasaan dan penuh propaganda. Kami mencari dan menghormati anggota dewan yang berani menolak atau tidak mengambil uang sewa rumah," katanya.

"Ini menjadi tantangan dan alat ukur mentalitas dewan baru ke depan," ujarnya.[]

related posts