Suraiya Kamaruzzaman, Perempuan Perdamaian Aceh Versi N-Peace Award

  • admin

SETELAH melewati seleksi dengan beberapa perwakilan dari sejumlah negara, akhirnya perempuan Aceh ini berhasil menjadi juara. Ia dinobatkan sebagai perempuan perdamaian oleh N-Peace. Ia berhak atas award yang diselengggarakan oleh lembaga tersebut.

Namanya Suraiya Kamaruzzaman. Perempuan Aceh ini dianggap sebagai perwakilan Indonesia oleh N-Peace. N-Peace Award merupakan sebuah pengharagaan yang bertujuan mempromosikan kepemimpinan perempuan dalam membangun perdamaian, memberdayakan masyarakat, mencegah kekerasan, dan penguatan-penguatan pascakonflik. Ada 6 negara yang masuk dalam pantauan N-Peace, antara lain Indonesia, Timor Leste, Nepal, Afganistan, Srilanka, dan Philipina.

Ada tiga indikator yang dilakukan oleh N-Peace award pada tahun 2012: perempuan indikator perdamaian; perempuan muda agen perdamaian; dan laki-laki yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Suraiya terpilih sebagai. Suraiya yang merupakan asli perempuan Aceh ini dinobatkan meraih award N-Peace award tahun 2012 setelah melewati beberapa tahap seleksi.

Pengakuan Suraiya, ia direkomendasikan oleh  organisasi koalisi Gender Based Valuation atau GBV. Ada 24 orang yang direkomendasikan oleh lembaga ini, sedangkan yang masuk nominasi sekitar 15 orang dari Indonesia, delapan di antaranya dari Aceh. “Tahap pertama masuk nominasi, saya dikasih tahu melalui email. Tahap kedua, saya masuk seleksi dan diminta CV, tapi saya tidak mengirimkannya,” ujar Suraiya.

Ditanyai alasan tidak mau mengirimkan email balasan, ia mengatakan, “Saya bekerja bukan untuk award.” Akan tetapi, tiga hari kemudian ia merasa tidak menghargai kerja panitia N-Peace apabila tidak merespon email panitia yang sudah diterimanya hingga beberapa kali. Akhirnya, ia kirimkan data pribadinya seperti diminta oleh panitia. Seleksi berikutnya dilakukan dengan voting.

“Mungkin karena melihat pengalaman-pengalaman saya dinilai baik oleh panitia rekomendasi tahap awal. Pengalaman  dari masa konflik hingga sekarang, terlibat dalam proses perempuan, mungkin karena itu saya dipilih,” ujarnya.

Menurut Suraiya, kandidat yang masuk nominasi beragam dan dari berbagai daerah. Ia menyebutkan di antaranya ada dari Makassar, Ambon, Jakarta, Aceh untuk Indoesia. Selain itu, juga ada dari belahan dunia lain seperti Nepal. Kegiatan para nominatro itu, tambah Suraiya, sangat beragam dan semuanya terlibat dalam penguatan perempuan pascakonflik. Ada yang terlibat mengkampanyekan lewat tulisan, training-trraining untuk perempuan, dan cara-cara lainnya.

“Nominasi keseluruhan dari 6 negara ada sekitar 100 orang. Ini sudah dari berbagai level, baik nasional, komunitas, maupun regional. Semua beragam menunjukan pengalaman-pengalaman kerja mereka, baik cara, trategi, maupun pendekatan,” tuturnya.

Suraiya pun berkisah awal mula ia berkecimpung dalam dunia perempuan perdamaian. Waktu itu tidak banyak yang berbicara tentang perdamaian dan penyelesaian konflik, kata dia, yang mereka inginkan hanya kemerdekaan. Penindasan tentang perempuan dan pelanggar HAM terus berlanjut. Tahun 2000, Aceh pertama sekali mengadakan kongres perempuan yang dinamakan Duek Pakat Inong Aceh I.

“Tantangan luar biasa, ancaman dari berbagai pihak kami dapatkan,” ujarnya, yang saat dalam kongres itu dipercaya sebagai ketua SC.

Suraiya dilahirkan di Aceh Rayeuk. Kedua orangtuanya hanya guru SD dan Min. Saat itu, ia mengaku melihat perempuan-perempuan di kampungnya banyak yang turun ke sawah. Ia mulai berpikir bahwa ada penyimpangan dalam kehidupan masyarakat sehingga perempuan lebih banyak turun ke sawah. Beranjak dari keresahan tersebut, ia mulai berpikir akan melakukan perubahan dalam dunia perempuan. Namun, ia sadar waktu itu ia belum tahu apa-apa.

Pendiri organisasi perempuan dengan nama “Flower Aceh” ini kemudian mulai melakukan gerakan penguatan-penguatan perempuan korban konflik, pengembangan ekonomi, dan mendata korban-korban kekerasan. Kadang, untuk mengumpulkan data, ia sampai menginap di pengungsian. Secara regular, data-data tersebut mereka laporkan ke PBB. Pada 1999. Suraiya juga sering mengikutii sidang tahunan di Jenewa untuk melakukan oral intervensi dan membawa kasus-kasus pelenggaran HAM, terutama perempuan Aceh.

“Secara regular, saya mulai sering kampanye di Eropa, termasuk Amerika, Australia, untuk menyuarakan penghentian kekerasan perempuan di Aceh,” tuturnya.

Ia menyuarakan penderitaan perempuan di belahan lain, seperti di Jakarta, Papua, dan Timor Leste. Dalam hal ini, lembaganya bekerja dengan Kolaisi NGO HAM. “Tidak ada alasan kenapa saya dipilih kemudian dinominasikan oleh GBV,” kata perempuan kelahiran 3 juni 1968 ini.

Keikutsertaannya dalam dunia HAM tak diargukan lagi. Labih dari 20 tahun ia telah berkecimpung menyuarakan hak asasi manusia, terutama hak-hak perempuan. Banyak pengorganisasian, advokasi, dan training-training tentang HAM yang ia ikuti. Sekarang ia menjadi salah satu presidium Balai Surat Ureueng Inong Aceh. Ia juga baru selesai kepengurusan sebagai ketua dewan pengurus rayon perempuan untuk kemanusian pada Pusat Studi Hukum HAM di Unsyiah.

Sehari-hari, Suraiya sebagai general of fecer untuk projek logika, projek kerja sama dengan Pemerintah Indonesi dengan Australia di 6 kabupaten. “Kami mencoba mendorong terbitnya peretaturan bupati untuk penahanan kasus kekerasan di 6 kabupaten serta penguatan tokoh-tokoh perempuan di tingkat gampông,” kata Suraiya Kamaruzzaman ST. LLM. (HR) yang kini sedang menyelesaikan S2 yang kedua.[]

related posts