Petani di Takengon produksi kopi luwak

SEORANG petani bernama Sarjiman di Kecamatan Jagong Jeget telah menjalankan kegiatan produksi kopi luak sejak tiga tahun lalu. Hal itu terungkap saat penulis dari Warta Pangan Aceh yang juga Pembina Lembaga ACDK Tarmizi Age menelusuri kegiatan kunjungan kerja Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh Drs. Hasanuddin Darjo, M.M. ke Aceh Tengah, Sabtu 8 Juni 2013.

Kopi luak produksi Sarjiman dijual antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per kilogram. Saat ini, kopi produksinya mulai dilirik investor dari Korea.

Sarjiman memiliki 25 ekor luak (musang) yang menghasilkan kopi di kebunnya seluas 1,5 hektare.

Di kebun kopinya yang baru diremajakan itu, ada batang kopi berukuran 30 sentimeter hingga 40 sentimeter.

Ia juga memanfaatkan lahan kosong di kebun dengan menanam kentang. Pemasukan yang ia peroleh mencapai Rp60 juta sekali panen.

Kepala Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Aceh Tengah, Adian, mengatakan, kopi luak produksi Sarjiman akan dipamerkan pada 30 Juni 2013 di Balai Diklat Pertanian Saree, dalam peringatan Hari Krida Pertanian.

"Kita akan pamerkan bagaimana kopi luak ini dihasilkan dan membawa luak ke acara itu," ujar Adian, Sabtu 8 Juni 2013.

Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh Hasanuddin Darjo, memberi apresiasi terhadap rencana promosi hasil usaha petani dari Gayo itu. Ia juga memuji usaha yang dilakukan Sarjiman selama ini. "Ini sesuatu yang luar biasa sekali," ujarnya.

Kini Sarjiman berharap pemerintah membantu petani dalam bidang pemasaran sehingga usaha pertanian tidak merugikan mereka.[]

 

Catatan: Warta Pangan Aceh adalah media yang diterbitkan oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh bekerjasama dengan Tabloid The Atjeh Times, grup ATJEHPOSTcom

related posts