Kisah Jambo Persinggahan Wapres Hatta di Aceh Selatan

  • admin

Jambo Hatta, sebuah gubuk berbentuk anjungan di atas bukit. Inilah kisah gubuk bersejarah ketika Wakil Presiden Pertama Indonesia, Muhammad Hatta, datang ke Aceh Selatan
___________________________________

“Keuno hai rakan tapiyôh siat

Taduek meusapat bak jambô hatta

Nyoe kön hukôm nyoe kön adat

Mungkén tabi’at jeut keu biasa”

Begitulah penggalan bait lagu berjudul ‘Aceh Selatan’ yang diyanyikan Syeh Lutan. Lagu yang sempat tenar dan dikenal luas oleh masyarakat Aceh ini secara umum mengisahkan keindahan dan keunikan Aceh Selatan. Salah satunya adalah jambo hatta.

Jambo hatta adalah sebuah gubuk kecil di atas bukit. Letaknya sekitar 8 kilometer dari Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan. Disebut jambo karena bentuknya berupa gubuk. Kendati letaknya di atas bukit, jambo itu tetap dibangun menyerupai rumah panggung. Ada sejumlah anak tangga yang harus dinaiki untuk masuk jambo tersebut. Coraknya yang mirip anjungan inilah yang membuat orang-orang menyebutnya gubuk.

Bagian atap jambo membentuk sudut umumnya rumah di Aceh. Sekelilingnya, mulai dari tulang-tulang penyangga atap sampai jerjak-jerjak dinding yang dibuat sepinggang ada ukiran khas bangunan Aceh.

Secara keseluruhan, gubuk itu terbuat dari kayu. Beberapa bagian tampak sudah terkopek, seiring usianya yang kian menua.

Bagaimana dengan kata “Hatta” sesudahnya? Kalimat di sebuah prasasti  yang ditulis dengan huruf kapital di bagian bawah gubuk itu bisa menjadi jawaban.

Begini kalimatnya:  DI TEMPAT INI, PROKLAMATOR/WAKIL PRESIDEN RI, DRS MOHAMMAD HATTA, BERISTIRAHAT DALAM PERJALANAN KELILING ACEH DI TAHUN 1953, UNTUK MEMPERERAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA.

Jambo itu memang menjadi saksi sejarah ketika Mohammad Hatta berkunjung ke Aceh Selatan di masa awal-awal Indonesia merdeka.

Menariknya, kedatangan proklamator RI itu ke Aceh langsung menuju Aceh Selatan, tanpa melalui ibukota Provinsi. Di bukit antara dua gampông tersebutlah Hatta beserta rombongan singgah pertama sekali. Di bukit itu kemudian didirikan sebuah gubuk yang dikenal dengan “Jambo Hatta” yang sebelumnya disebut-sebut dengan “Panorama Hatta”.

Jambo Hatta diapit oleh dua gampông: Panjupian dan Lhok Reukam, Kecamatan Tapaktuan. Secara teritorial, Jambo Hatta masuk ke dalam wilayah Gampông Lhokreukam. Gampông ini pun menyimpan keunikan tersendiri. Dulunya di gampông itu terkenal “ketibang” atau kelapa tiga cabang.

“Dulu memang ada kelapa yang cabangnya tiga di Gampông Lhok Reukam, sekarang tidak tahu kemana. Mungkin sudah tumbang,” kata Yuli Candra, warga Tapaktuan, sepekan sebelum Ramadan lalu.

Menurut Candra, Lhok Reukam adalah gampông yang menyimpan panorama sangat indah. Gampông itu terletak persis di tepi pantai dan di atasnya ada bukit. Pada bagian bukit tersebut ada jalan nasional.

“Lhok Reukam itu kampung nelayan. Persis di bibir laut. Makanya kalau kita duduk-duduk di Jambo Hatta lalu memandang ke Lhok Reukam, kita akan melihat alam yang sangat cantik,” tutur Candra.

Memang, dari lokasi Hambo Hatta, jika memandang ke arah Lhok Reukam, akan terlihat laut yang luas membentang, mulai dari tengah sampai pecahan buih di bibir pantai. Beberapa perahu kecil milik nelayan menambah keindahan tersendiri gampông tersebut. Ditambah lagi dengan barisan nyiur yang condong ke arah laut. Daunnya tampak rapi dan hijau ranum.

Itu baru satu panorama yang dapat dinikmati dari Jambo Hatta. Kalau kita melihat ke arah berlawanan, tampak pula jalanan berbelok-belok di bukit Panjupian. Tatkala ada mobil yang melintas di atas jalan tersebut, pemandangan sekilas seperti dalam lukisan. Hijaunya pepohonan rimbun, sedangkan pada bagian bawah ada birunya laut, ditambah keberadaan mobil yang melaju, serasa benar asrinya.

Tidak salah jika dalam lagu Syeh Lotan disentil tentang keindahan laut Hindia di Aceh Selatan. Karena itu pula, banyak orang yang melintas di sana, berhenti sejenak di Jambo Hatta. Kadang mereka melepas penat sambil menikmati keindahan alam. Apalagi, saat ini di lokasi jambo sudah ada kedai kecil yang menjajakan minuman dan penganan ringan.

“Mungkin karena keindahan itu, Mohammad Hatta singgah di sana. Tujuan Hatta sebenarnya ke Kluet, mau melihat  potensi emas Aceh Selatan,” tutur Darul Qudni, penulis legenda Tapaktuan sepekan lalu.

Menurut wartawan senior ini, Hatta sudah lama tahu di Aceh Selatan banyak kandungan emas. “Makanya saat ke Aceh, tujuan Hatta langsung ke Aceh Selatan. Sesudah istirahat di bukit itu, rombongannya menuju Kluet Utara. Di Ruak, mereka makan bersama warga dengan menyembelih 40 ekor kerbau,” kata Qudni. (artikel ini juga dipublikasikan di tabloid mingguan The Atjeh Times edisi 9)

related posts