Kandasnya cinta pertamaku yang berawal dari facebook

Artikel di bawah ini adalah kisah nyata yang dialami seorang gadis di Banda Aceh. Ditulis ulang oleh Dewi Rahma dan ditayangkan sebagaimana aslinya.

___________________

FACEBOOK kerap kali dibicarakan di khalayak ramai, banyak yang berpendapat tentang facebook. Ada yang negatif juga tak sedikit yang berpendapat positif. Aku adalah termasuk orang yang berfikir positif tentang facebook dan aku penikmat aktif facebook. Di mana aku bisa menemukan teman-teman lamaku dan menemukan catatan-catatan kecil motivasi di sana.

Tak kusangka ternyata aku menemukan my first love lewat perkenalanku di facebook. Sebut saja Rico namanya. Awalnya kami hanya berteman lewat facebook, tanpa chatt, inbox atau koment. Ntah mengapa malam itu Rico memulai pecakapan di antara kami, seperti biasa, pembukaan pembicara adalah ucapan salam kenal, aku pun membalas hanya dengan smile emotio.

Kemudian ada balasan lagi pada selanjutnya, hingga saat itu aku melewati malam dengan chat bersamanya. Esoknya hal ini terulang lagi, setelah berulang kali kami selalu chat berdua, akhirnya dia meminta nomer handphoneku. Dan aku memberinya dengan harapan berteman. Dan dia adalah laki-laki pertama yang kuberi nomer handphoneku tanpa aku mengenalnya.

Tak kusangka ternyata dia begitu perhatian padaku mungkin mengalahkan cerita India dan Korea yang menceritakan romantisnya percintaan. Akhirnya sore itu dia menggajakku ketemuan, awalnya aku menolak karena jujur aku tidak pernah dekat dengan laki-laki dengan yang berbau-bau asmara. Kebetulan juga hari ini aku diundang ke pesta ulang tahun temanku. Aku menghadiri pesta itu dengan teman-teman lainnya, kemudian di sana aku bercerita tentang ajakan Rico yang mengajakku bertemu dengannya pada sahabatku sebut saja Feby.

Setelah aku menceritakan tentang ajakan itu. Feby memberi pendapatnya, katanya setujui saja pertemuan itu, setelah pulang pesta ulang tahun ini, kita akan bertemu dengannya, awalnya aku menolak dengan alasan aku malu, takut dll. Namun Feby mengajakku terus untuk berjumpa dengan si dia. Akhirnya aku menyetujuinya, kukirimkan pesan singkat padanya “Aku terima ajakanmu, jam 5 sore, di taman seribu janji”. Kemudian dia membalas “ok..!!”.

Setelah pulang dari pesta ulang tahun temanku, aku dan Feby dengan mengendarai sepeda motor pergi menuju ke tempat yang telah kami tentukan tadi. sampai disana ternyata Rico belum datang, aku dan Feby menunggunya sambil berbicara tentang kampus dan mata kuliah kemarin, dan tak bisa ku pungkiri, aku deg degan, kedua tangganku dingin dan aku nervous berat.

Padahal di sana sidia belum muncul, namun aku sudah berubah seperti bunglon merubahkan warnanya. Tak lama kemudian dia mengirimkan pesan singkat padaku “di mana ? Rico udah di depan”.

Begitu aku membaca pesan itu, suhu badanku menjadi demam dengan mata melirik-lirik mencari orang yang kuyakini itu Rico. Kemudian aku membalas “di bawah, turun aja..aku berdua dengan sahabatku”. Kemudian aku dan Feby dengan mata yang cepat mencari-carinya.

Akhirnya sosok seorang laki-laki berkulit putih, berbadan tegap, berbibir tipis kecil dengan kemeja hitam dan jeans rapi menghampiri kami, di dalam hatiku hanya ada satu kata yaitu “WOOOOw..!!” Rico sangat tampan. Cuma aku mencoba untuk santai dan biasa saja, Rico mengulurkan tangannya dengan menyebut namanya dan akupun begitu.

Tak banyak yang kami bicarakan bahkan percakapan kami bisa dihitung jumlahnya, mungkin karena sama-sama malu. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing, aku berfikir mungkin setelah pertemuan ini tidak akan ada lagi pertemuan selanjutnya, karena Rico sanggat tampan sedangkan aku biasa saja, tidak cantik.

Namun aku salah, ternyata Rico malah lebih sangat perhatian dari sebelumnya, yang biasanya mengirim sms hanya malam saja, setelah pertemuan itu menjadi 24 jam, wah...aku pun akhirnya tersanjung padanya. Akhirnya tepat azan magrib dia mengatakan cinta padaku, aku terkejut, aku memang suka padanya namun saat itu belum ada cinta di hatiku untuk Rico.

Aku mengabaikannya dengan menyuruhnya shalat dulu, akan kufikirkan nanti. Kemudian setelah shalat dia menelponku dan bertanya kembali, aku menjawab lagi akan kufikirkan besok, besok akanku beri jawabannya. Malam itu aku tidak tenang, aku gelisah seperti ada masalah yang ditumpukkan di kepalaku. Pagi pun tiba, aku menceritakan masalah itu pada Feby dan ia memberi pendapat. “Jalani aja, siapa tau cocok”.

Kemudian malamnya Rico menelponku, dan bertanya kembali, aku menjawabnya “iya” mulai malam itu lah kami menulis cerita indah berdua, kami resmi jadian, dan malam itu pula aku mendapatkan pacar pertamaku, dalam tiga bulan awal dari hubungan kami Rico sangat perhatian, baik dan mengerti aku. Namun di saat bulan keempat ada permasalahan di antara kami, itu berawal dari aku menanyakan kenapa aku tidak pernah dipertemukan dengan sahabat-sahabatnya dan keluarganya, aku menjalani hubungan dengannya namun tak seorangpun orang yang mengenalnya kukenal. Ternyata Rico marah padaku dan aku meminta maaf, kemudian kami seperti biasa lagi.

Hari-hari yang kulewati bersamanya, membuatku senang, ada sesuatu yang beda dalam hidupku, aku seperti terlahir kembali, aku memiliki semangat baru dan tak bisa kuingkari cintapun tumbuh di hatiku untuknya. Namun, di bulan ke enam perjalanan cinta kami seakan rumah yang tidak memiliki atap, rumah punya dinding, jendela dan pintu. Namun, tak beratap. Sikap Rico berubah, dia tak lagi seperti dulu yang romantis melebihi film Korea, perhatiannya berkurang dan Rico bersikap dingin padaku.

Entah mengapa aku tidak pernah tau kesalahanku, berulang kali aku bertanya namun tidak ada jawab darinya, aku tidak peduli tentang perubahannya, aku membalasnya dengan sangat perhatian, meskipun dia terkadang tidak membalasnya. Aku mencoba mejadi perfect untuknya maskipun dia telah berubah, akhirnya di bulan ke delapan aku mengetahui bahwa ada seorang wanita yang sedang dengan bersamanya, aku pernah menanyakan tentang wanita itu, namun jawabnya  itu adalah sahabatnya. Aku percaya padanya meskipun ada sedikit yang mengganjal di hatiku tentang wanita itu.

Saat itu tak ada lagi senyuman yang Rico ciptakan di bibirku, dia malah sering membuatku menangis dengan sikapnya sangat  jutek padaku. Aku punya dia. Namun, aku seperti tak berkasih. Aku coba untuk bersabar, dan perjalanan cinta kami pun bertahan hanya sepuluh bulan, pagi itu Rico meminta padaku untuk mengizinkannya bertamu ke rumahku, aku sangat senang, akupun menyetujuinya.

Kemudian Rico pun datang ke rumahku, dia datang makan siang dan bercanda denganku, aku sangat senang saat itu. Kemudian dia pamit pulang padaku, sebelum pulang dia berpamitan ingin liburan bersama temannya ke luar kota, aku tanya berapa lama, Rico menjawab tidak lama hanya beberapa hari, nanti setelah pulangnya dia dari liburan dia akan mengajakku jalan. Aku memberi izin padanya, kami bersalaman dan dia mencium keningku. Aku terkejut saat itu, jujur itu adalah ciuman pertamaku. Dan tak kusangka itu adalah pertemuan terakhir kami. Selama dia berlibur dengan teman-temannya di luar kota Rico nyaris tidak mengirimkan kabar sama sekali, hatiku tidak enak, aku selalu memikirkannya. Aku menanyakan kabarnya, namun tidak ada balasan, aku menghubunginya juga tidak ada yang mengangkat, aku bingung apa sebenarnya yang terjadi.

Tak lama kemudian, akhirnya Rico mengirimkan pesan memberi tau bahwa dia tidak ada pulsa, aku pun dengan lugu ke luar malam-malam hanya untuk mengisi pulsa untuknya, setelah pulsa masuk Rico pun tidak mengirimkan kabarnya, aku bertanya padanya sebenarnya ada apa, namun dia hanya menjawab “semuanya baik-baik saja”.

Malam itu aku tidak tidur, mataku seakan terganjal batu besar, mataku tidak bisa kututup, hanya tetesan air yang keluar dari mataku. Aku tau malam itu Rico sudah kembali dari liburannya pagi pun tiba, aku melupakan kesedihanku dan mempersiapkan baju untuk jalan bersama Rico, seperti yang dijanjikan sebelum dia berangkat berlibur.

Tiba-tiba pesan singkat masuk ke handphoneku “Sayang, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dalam beberapa bulan ini. Aku sadar selama ini aku tidak memperhatikanmu, aku mengabaikanmu, sayang...sedih rasanya memberi tau ini, namun harus kukatakan. Kalau aku mau kita hanya berteman, kita putus”. Tanpa kusadari, air mataku pun menetes dengan hati yang sangat sakit, aku bingung, aku hilang kendali. Aku terduduk di atas tumpukan baju-baju yang sedang kupilihkan untuk jalan bersamnya. Aku coba menghubunginya. Namun sayang Rico tak mau mengangkat panggilanku, kukirimkan dia pesan. “Apa salahku, apa alasanmu memutuskan hubungan kita?” Rico hanya membalas “Ada alasan yang tidak bisa kujelaskan, maafkan aku melukaimu,”.

Aku mengirim kembali pesan untuknya “Jujur aku sakit dengan sikapmu, aku terima keputusanmu, meskipun sakit rasanya. Aku kecewa padamu, aku kesal dengan cara mu mengakhiri hubungan kita dengan cara seperti ini, terima kasih untuk semua, jaga kesehatan, jaga ayah dan mama,” itu adalah akhir pesanku padanya.

Rasanya hari-hari yang kulewati tanpanya membuatku sangat terpukul, aku seperti melihat bayang-bayangnya di rumahku. Setiap malam aku menyiksa diriku sendiri dengan begadang sambil memikirkannya dan selalu bertanya pada diriku sendiri, “apa salahku..?” Hal ini selalu kulakukan hingga 1 bulan 4 hari, akhirnya aku menemukan sosok seorang wanita yang dikatakan Rico dulu adalah sahabatnya, wanita itu menuliskan tentang kesenangannya atas berakhirnya hubunganku dengan Rico di twitternya.

Tak jarang dia menuliskan namaku dalam twitternya, awalya aku mencoba untuk bersabar dan tak peduli tentang tulisannya dalam twitter, namun akhirnya aku lelah. Namaku kerap kali menjadi perbincangan di sana. Akhirnya aku mengirim pesan singkat pada Rico memberi taunya bahwa aku merasa terganggu dengan tulisan-tulisan wanita itu. Namun, Rico membela wanita itu daripada membelaku. Jujur aku sangat sakit dengan hal itu.

Kemudian mulai malam itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah peduli tentang Rico dan wanita itu, meskipun sampai detik ini aku masih selalu mengintip kabar Rico lewat facebook dan twitternya. Jujur sampai saat ini aku masih mencintainya, namun aku tidak pernah berniat untuk kembali padanya. karena aku tau, semua takkan seindah dulu.  

Untuk teman-teman semua, ini cerita my first love. Di mana aku sangat polos, aku menutupi diri dari semua laki-laki hanya untuk pasanganku, aku setia dengan tidak menoleh mataku pada laki-laki lain, aku mencoba untuk perfect meskipun aku tidak sempurna, aku mecoba membuatnya bahagia meskipun aku terluka, namun apa akhirnya, itu semua membuatku luka. Cinta itu adalah genggaman, genggam sekuat mungkin, namun bila kamu merasa sakit lepaskan dia, dan jangan coba mengenggam lagi dengan tanggan yang sama, karena genggaman itu tak akan sekuat di awal kamu mengenggam.[]

Dewi Rahma

mahasiswa di STKIP BINA BANGSA

related posts