Integrasi Tiga Dimensi Demi Penyelamatan Bumi

  • admin

MANUSIA, sadar atau pun tidak, melakukan segala upaya untuk melangsungkan kehidupannya. Salah satu cara untuk keberlangsungan tersebut sering kali mengorbankan sumber daya alam (SDA).

Pemanfaatan ini dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan dan keterbatasan SDA. Hingga akhirnya berdampak negatif pada keberlanjutan SDA dan lingkungan. Sebagai reaksi terhadap krisis ini, sejak memasuki abad ke-20 telah tumbuh dan berkembang pergerakan lingkungan, yang dilandasi dengan pendekatan ecosophy (deep ecology), yang diperkenalkan pertama kali pada 1972 oleh Arne Naess, filsuf dari Norwegia.

Ecosophy inilah yang akhirnya coba diterapkan Hadi Alikodra MS, Guru Besar di Institut Pertanian Bogor dan Penasihat Senior WWF-Indonesia, untuk menelurkan buku "Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Pendekatan Ecosophy bagi Penyelamatan Bumi."

"Isi buku ini mengangkat tiga dimensi ecosophy, suatu pendekatan yang mengintegrasikan dimensi intelektual, dimensi spiritual, dan dimensi emosional," ujar Alikodra dalam pernyataan pers, Rabu, 24 Oktober 2012.

Dijabarkannya, dimensi intelektual berarti umat manusia diminta secara terus menerus mempelajari, meneliti,  memahami, dan menghargai alam lingkungannya. Dimensi spiritual berarti mempercayai bahwa SDA diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Perlu dilindungi dan dijaga kelestariannya karena berfungsi untuk mendukung kehidupan manusia.

"Sedangkan dimensi emosional menurutnya bermakna dalam membentuk manusia beretika dan bermoral bagi terjaminnya kualitas hidup manusia dari generasi ke generasi.

Buku ini sekaligus sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-50 WWF-Indonesia berkiprah di Indonesia. Sebelum diterbitkan, buku setebal 428 halaman dan terbagi empat bagian ini telah mengalami uji coba dan dibahas dalam mata ajar di berbagai universitas. Antara lain di Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, UNSIL-Tasikmalaya, UIN-Jakarta, USU-Medan, serta UNSOED-Purwokerto.

"Sudah waktunya kita mengisi kebutuhan bahan bacaan berbahasa Indonesia tentang konservasi SDA dan lingkungan yang masih sangat langka," kata Efransjah, CEO WWF-Indonesia.

Menurut Emil Salim sebagai Guru Besar UI, tulisan Alikodra sangat penting karena memberikan penyadaran pada siapa saja yang peduli terhadap kerusakan sumber daya alam dan bumi. ," paparnya. | sumber : nationalgeographic

related posts