Cerita bayi gajah dan #1000 untuk Raju

  • admin

BADANNYA mungil. Tingginya hampir sepinggang orang dewasa. Sambil memainkan belalainya dengan lincah, bayi gajah ini “menyapa” siapa saja yang mendekat.

Raju, begitu nama bayi gajah berumur satu-dua bulan ini. Nama tersebut diberikan Abdul Mutaleb, pawang yang selama ini merawatnya. Mulanya, Raju yang masih tertatih dan mengeluarkan liur, ditemukan oleh para pencari kayu, tergeletak di tengah hutan.

Warga Dusun Pante Kiro, Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara kemudian mengambil bayi gajah itu dari para pencari kayu. Abdul Mutaleb lantas merawatnya dengan membuat kandang kecil yang terbuat dari susunan potongan bambu di pinggir sungai desa tersebut.

Di kandang yang diberi atap terpal warna biru, Raju dirawat bersama seekor gajah lainnya yang diberi nama Raja, lebih tua dari Raju. Raja ditemukan lebih dulu. Sayangnya, tiga hari setelah Raju ditemukan, Raja menemui ajalnya.

Hari ini, Kamis, 27 Juni 2013, Raju akan dibawa ke Pusat Latihan Gajah (PLG) di Saree, Aceh Besar. Warga setempat khawatir tidak mampu merawat bayi gajah itu dengan baik, kondisi Raju kurang sehat. Itu sebabnya, Raju diserahkan kepada pihak PLG.

Raju sempat demam, diare dan luka pada bagian perut bekas tali pusarnya. Kondisinya lemah. Raju kemudian mendapat perawatan intensif dari dokter. Ia diberi infuls oleh dokter hingga demamnya menurun.

Tim PLG yang datang dari Saree, memeriksa dan merawat Raju sebelum diberangkatkan ke Saree. Melalui Rosa, dokter dari PLG, Raju diberi infus karena kondisinya masih lemah.

“Kita infus karena kondisinya lemah, ini sebagai suplemen persiapan dalam perjalanan supaya dalam perjalanan menuju PLG nanti dia tidak lemah dan sakit,” ujar Rosa pada ATJEHPOSTcom.

Rosa lalu menyanpaikan kabar baik. Kata dia, kondisi Raju semakin membaik. Bekas luka di bagian perutnya sudah mengering. Rajupun tidak demam lagi. Tapi Raju masih diare. “Gajah ini diare karena awalnya warga di sini memberi susu sapi yang mengandung laktosa. Setelah datang kemari, kami mengusulkan  untuk diberi susu soya yang tidak mengandung laktosa,” kata Rosa.

Warga akhirnya mengizinkan Raju dibawa ke PLG Saree, juga karena ada dukungan sejumlah komunitas pecinta satwa. Beberapa komunitas seperti Darah Untuk Aceh, Earth Hour, Animal Lover, Orang Utan dan lainnya, kemudian menggabungkan diri dalam satu wadah yang diberi nama #1000 untuk Raju.

#1000 untuk Raju adalah gerakan para komunitas pecinta satwa yang berupaya mencari dana 1.000 rupiah per orang untuk biaya perawatan dan seluruh keperluan Raju. “Awalnya kami tidak berniat untuk membawa Raju ke PLG Saree, kami hanya mencari donor 1000 per orang untuk biaya perawatan Raju di sini, seperti susu dan lainnya,” ujar Nunu Husein, penggagas #1000 untuk Raju.

Setelah menghabiskan beberapa infus, Raju pun diboyong ke Saree. Bayi gajah ini ditempatkan di belakang mobil pick-up milik PLG.[]

related posts