Benarkah asmara Subuh haram seperti kata MUI?

BULAN Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba melakukan ibadah sebanyak mungkin demi meraih pahala berlipat ganda di bulan suci Ramadan.

Berpuasa, salat, tadarus, zikir, tarawih dan itikaf di masjid merupakan kegiatan yang sering dijumpai dalam bulan penuh ampunan ini. Namun pada kenyataannya, tak sedikit yang memanfaatkan Ramadan untuk melakukan kegiatan yang kurang baik, contohnya muda mudi bukan muhrim bermesraan usai salat Subuh atau biasa disebut asmara Subuh.

Asmara Subuh yang dilakukan oleh muda mudi ini sering kali membuat kalangan ulama gerah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mengeluarkan fatwa bahwa kegiatan asmara subuh yang biasa dilakukan oleh muda mudi adalah perilaku haram. Sebab, menurut MUI, tak sedikitpun kegiatan asmara Subuh membawa keuntungan bagi yang melakukan dan orang lain sesuai ketentuan ajaran Islam.

Ustaz Abdul Ghofar mengamini fatwa tersebut. Menurut dia, kegiatan asmara Subuh bisa dikategorikan sebagai sebuah budaya menyimpang masyarakat. Bahkan menurut dia, tidak menutup kemungkinan, asmara subuh itu melanggar ketentuan dan syariat Islam.

"Kegiatan jalan pagi muda-mudi setelah salat subuh itu dikatakan menyimpang karena bercampur baurnya laki-laki dan perempuan yang jelas-jelas bukan muhrim," kata Ghofar saat berbincang, Sabtu (14/7) malam.

Biasanya, lanjut dia, para anak muda yang melakukan asmara Subuh justru orang-orang yang tidak paham dengan ajaran agama. Atau lebih tepatnya, mereka yang kurang iman. Sebab, kata Ghofar, asmara subuh pada akhirnya akan menjadi perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama.

Dengan tegas dia mengatakan, bahwa asmara Subuh jelas membatalkan hukum puasa jika para pelakunya sudah mencapai pelampiasan nafsu seksual.

"Akhirnya apa yang dilakukan itu menjadi bertentangan dengan koridor bulan Ramadan yang suci. Kita ketahui, di tengah-tengah asmara subuh itu bukan hal yang mustahil menyebabkan terjadinya interaksi seksual. Artinya, yang mengikuti asmara Subuh tidak bisa lagi menjaga nafsu syahwatnya," jelas pria berusia 67 tahun itu.

Ghofar menambahkan, asmara subuh tidak hanya membuat rugi para pria dan wanita yang lakukan dosa besar. Terkadang, dalam budaya penyakit masyarakat itu juga dilakukan dengan perilaku berbuat onar dan mengganggu kenyamanan dan keamanan orang lain.

Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada seluruh orang tua agar memberikan pemahaman sebaik-baiknya kepada anak agar tidak menyimpang dari ajaran agama. "Peran orangtua dan ulama sangat penting di sini," tandasnya.

"Selain itu juga, peran ulama dan para guru pun sangat dibutuhkan. Dan akan lebih maksimal lagi, apabila sosialisasi bahwa asmara Subuh itu haram dilakukan secara intensif dan terus menerus. Supaya pada bulan-bulan puasa selanjutnya tidak ada lagi yang namanya asmara Subuh," lanjutnya.

Ghofar menambahkan, untuk mengisi waktu liburan sekolah anak-anak. Lebih baik waktu subuh digunakan dengan melakukan tadarus ataupun kuliah subuh. |sumber: merdeka.com

related posts