Belanja online di China marak, pengelola mal ubah strategi

MUNCULNYA e-commerce telah memicu maraknya kembali bisnis ritel di China. Negeri Tirai Bambu itu kini tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dunia, sekaligus paling padat penduduknya.

Menurut laporan McKinsey & Co bulan lalu, seperti dikutip dari Forbes, sekitar 5-6 persen dari belanja ritel di China sudah menggunakan "e-tail" atau electronic retailing. Transaksi ritel melalui internet di China itu sedikit lebih tinggi dibandingkan di Amerika Serikat yang mencapai 5 persen.

Perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan fasilitas electronic retailing itu di antaranya raksasa mesin pencari lokal Baidu, Alibaba Group Holding Ltd, dan perusahaan jasa pengiriman SF Express.

Alibaba Group sebagai perusahaan e-commerce terbesar di China termasuk di antara yang memeroleh keuntungan dari transaksi elektronik itu. Chairman Alibaba Group, Jack Ma, mampu menempati peringkat ke-365 sebagai orang terkaya dunia versi Forbes. Kekayaannya mencapai US$3,4 miliar.

Lalu, apa dampak penggunaan transaksi elektronik itu bagi pengelola pusat perbelanjaan terbesar China?

Saat ini, beberapa miliarder China menguasai bisnis pusat perbelanjaan, seperti Wang Jianlin, pemilik Dalian Wanda Group dan Zhang Xin, pengendali Soho China. Sebagian besar kekayaan mereka diperoleh melalui pengelolaan properti komersial itu.

Manajemen Soho awal tahun ini mengatakan, mereka sudah mencari cara untuk mengurangi dampak meningkatnya transaksi elektronik itu pada pengelolaan properti komersial yang dimilikinya.

Dampak pertumbuhan e-commerce terhadap toko tradisional di China itu pun memicu salah satu pengembang real estate terbesar negara tersebut mengalami penurunan eksposur ritel dalam portofolio propertinya. Selain itu, mereka menekan fasilitas ritel dalam proyek-proyek yang berkonsep toko.

"Belanja online kini memang lebih populer, dan dampaknya terhadap penjualan langsung --yang mempertemukan penjual dan pembeli-- cukup besar dan semakin signifikan pada tahun-tahun mendatang," ujar manajemen Soho.

Bahkan, maraknya belanja online itu sempat memukul harga saham Suning Appliance. Harga saham pengelola toko peralatan listrik itu turun sekitar 30 persen lebih tahun lalu.

Sementara itu, laporan terbaru konsultan properti, Jones Lang LaSalle, menyebutkan, di masa depan, toko-toko elektronik di mal akan memberikan fasilitas belanja yang menyenangkan bagi pengunjung.

"Munculnya e-commerce itu bisa memicu lebih banyak pusat perbelanjaan yang menekankan kualitas pelayanan berupa fasilitas restoran maupun pilihan hiburan," ujar laporan itu.

Pengelola mal juga akan mengurangi ruang lantai, misalnya untuk gerai elektroniknya, seiring kompetisi ketat dari penjualan online. "Ini juga berarti bahwa mal perlu fokus, misalnya pada penjualan busana khusus yang tidak mudah ditemukan secara online," tuturnya.

Namun, laporan Jones Lang LaSalle itu menyebutkan antara e-commerce dan penjualan langsung yang mempertemukan penjual dan pembeli akan terus berjalan beriringan. "Yang jelas, e-commerce tidak akan menjadi akhir dari bisnis pusat perbelanjaan," tulis Jones Lang LaSalle. | sumber : viva

related posts