Banda Aceh, bermula dari Darud Dunia

  • admin

TUGU setinggi pinggang itu berdiri kokoh. Di atasnya sebuah plat dari besi putih bertulis kalimat dalam tiga bahasa: Aceh, Indonesia, dan Inggris. “Di sini cikal bakal Kota Banda Aceh tempat awal mula Kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M).” Tak ada keterangan tahun pembangunan tugu. Namun dilihat dari kondisinya, masih terhitung bangunan baru. Tugu ini berada di Gampông Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Penentuan lokasi awal pendirian Tugu Nol Kilometer Banda Aceh itu berdasarkan literatur sejarah. Lokasi diketahui sebagai cikal bakal Kota Banda Aceh setelah adanya sebuah peta Aceh kuno yang dibawa peneliti dari Spanyol, pada seminar sejarah Aceh di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, 2007 lalu.

***

SEJARAH mencatat Kerajaan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha, seperti Indra Purba, Indra Patra, dan Indra Pura. Keterangan itu diperoleh setelah ditemukan batu-batu nisan di Kampung Pande, Banda Aceh. Di sana terdapat batu nisan Sultan Firman Syah cucu Sultan Johan Syah.

Di batu itu tertulis keterangan Banda Aceh sebagai Ibu Kota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada Jumat, 1 Ramadhan 601 Hijriah atau 22 April 1205. Banda Aceh dibangun Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Indra Purba dengan ibu kotanya Bandar Lamuri.

Keterangan lain mengenai Kesultanan Aceh Darussalam juga dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan milik Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam hanya selama 10 tahun. Kendati singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Merujuk pada tulisan Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo tahun 2006 tentang Kerajaan Aceh Darussalam, kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang ber-ibu kota di Banda Aceh, tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Seorang sultan dari Kerajaan Islam Lamuri, Munawwar Syah, dianggap sebagai moyang Sultan Iskandar Muda.

Pada akhir abad ke-15, pusat singgasana Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasinya berada di wilayah Banda Aceh. Istana dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande atau sering disebut dengan "Kandang Aceh", di sekitar tugu di Gampông Jawa tadi.

Masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah, istana Kerajaan Aceh dibangun ulang di seberang Kuala Naga dengan nama Kuta Dalam Darud Dunia. Letaknya di dalam kawasan Pendopo Gubernur Aceh sekarang.

Alaidin juga mendirikan Masjid Raya Baiturrahman pada 691 Hijriah. Lalu, Banda Aceh Darussalam dijadikan sebagai Ibu Kota Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada 1539, pengelana dari Spanyol, Mendez Pinto, menceritakan situasi Kota Banda Aceh yang disinggahinya. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. Dalam catatan petualang ini disebutkan, Banda Aceh telah berevolusi menjadi kota pusat pertahanan. Banda Aceh ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jamaah haji dari perompakan armada Portugis.

Pinto menceritakan tentang balatentara kesultanan yang ada di Banda Aceh. Tentara-tentara itu, tulis Mendez Pinto, seperti dikutip Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh, berasal dari Turki, Cambay, dan Malabar.

Sepeninggal Sultan Alauddin, kondisi politik di Banda Aceh menjadi pelik. Pucuk pimpinan kesultanan silih berganti dalam waktu singkat. Hingga akhirnya Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat. Sultan yang juga dikenal dengan sebutan Darmawangsa dan Tun Pangkat ini berhasil mengembalikan marwah kota menjadi pusat  perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa.

Iskandar Muda juga membangun pusat Kota Banda Aceh menjadi taman dunia, dimulai dari kompleks istana. Kompleks istana ini lalu dikenal dengan nama Darud Dunia atau Taman Dunia.

Di masa Sultan Iskandar Muda, tata ruang wilayah Kota Banda Aceh terus dibangun. Selain memanfaatkan Krueng Aceh sebagai jalur masuk dan keluar ke Selat Malaka, sultan juga menggali sungai baru bernama Krueng Daroy. Sungai ini membelah Istana Darud Dunia dan bermuara ke Krueng Aceh.

Pada masa Iskandar Muda, di Banda Aceh juga dibangun Taman Gunongan. Taman ini dibuat untuk mengobati kerinduan Putroe Phang terhadap kampung kelahirannya yang terdiri dari perbukitan, Pahang, Malaysia.

Sebagai pusat kota kerajaan, Banda Aceh pernah mengalami masa kelam. Terlebih saat terjadi perebutan kekuasaan antara sultan dan keluarga-keluarganya, seperti yang ditulis Teungku Dirukam dalam karya sastranya, Hikayat Pocut Muhammad.

Banda Aceh juga pernah dirundung konflik saat Aceh dipimpin ratu. Saat itu, golongan oposisi "kaum wujudiah" berusaha merebut kekuasaan meski gagal. Dalam beberapa referensi disebutkan, kaum wujudiah ini membakar Kuta Dalam Darud Dunia, Masjid Raya Baiturrahman dan bangunan-bangunan lain dalam wilayah kota.

Sementara masa teramat getir dialami Banda Aceh ketika perang di jalan Allah selama 70 tahun. Perang ini dilakoni oleh sultan dan rakyat Aceh sebagai jawaban atas ultimatum Kerajaan Belanda pada 26 Maret 1837.

Perang frontal terjadi hampir sebulan dan berakhir dengan matinya Jenderal Kohler, pembakaran Masjid Raya, pendudukan Darud Dunia, serta meninggalnya ribuan syuhada dari Aceh.

Perang frontal ini berakhir setelah Kesultanan Aceh dilanda wabah kolera. Sultan Aceh bersama pengikutnya mundur ke wilayah Pidie meninggalkan Istana Darud Dunia. Evakuasi besar-besaran ini kemudian dirayakan Van Swieten, pimpinan agresi Belanda tahap dua, dengan menggantikan nama kota menjadi Kuta Raja pada 24 Januari 1874.

Setelah Aceh menjadi bagian dari Pemerintah Republik Indonesia, tepatnya pada 28 Desember 1962, nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, tanggal 9 Mei 1963.

***

TUGU di Gampông Jawa itu masih tegak. Lima batang pohon ketapang melingkarinya. Daun-daun ketapang yang berwarna kuning luruh berserakan di lantai tugu. Di sisinya dibangun dua kursi yang menyatu dengan beton tembok. Wakil Ketua Yayasan Masyarakat Pusaka Nanggroe Adian Yahya, mengatakan, tugu dibangun pada 2007 oleh Yayasan Bustanus-salatin yang bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias. Tugu dibangun sebagai pengingat.

Apalagi, setelah dihantam tsunami pada 2004, sebagian lokasi cikal bakal Kota Banda Aceh itu telah menjadi laut. “Jadi titik tugu yang kita bangun itu sesuai peta kuno yang masih termasuk dalam kawasan Istana Sultan Johansyah,” ujar Adian Yahya kepada The Atjeh Times, Selasa pekan lalu. | BOY NASHRUDDIN AGUS | REZA MUSTAFA

related posts