Asmara online hanya untuk senang-senang?

HADIRNYA internet tak bisa dipungkiri memberikan banyak dampak positif. Salah satunya adalah mudahnya menjalin komunikasi antar sesama pengguna internet di seluruh dunia. Selain itu media internet lebih efektif dan murah.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, banyak muncul jejaring sosial di internet yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi. Misalnya facebook, twitter, yahoo messenger, BBM, hingga what’s app yang berbasis mobile.

Komunikasi di dunia online ini tak jarang menimbulkan benih-benih asmara. Umumnya terjadi pada anak muda, tak terkecuali pemuda pemudi di Aceh. Istilah ini dalam bahasa kerennya sering disebut asmara online.

Senin petang kemarin, 18 Maret 2013, ATJEHPOSTcom menjajaki beberapa anak muda di Banda Aceh. Mengenai fenomena ini ada yang mau berkomentar, tapi banyak juga yang tutup mulut.

“Asmara online? Saya nggak ngerti jaga sih. Tapi banyak yang bilang asmara online itu pacaran via dunia maya,” ujar mahasiswa pascasarjana IAIN Ar Raniry Khafidah, 25 tahun, kepada ATJEHPOSTcom.

Gadis yang tinggal di Kecamatan Lueng Bata ini berpendapat jika hubungan yang dibangun dari sosial media seperti itu tidak baik.

“Kita tak tahu langsung real-nya seperti apa. Apalagi zaman sekarang ini, banyak kenalan di dunia maya yang berkibat fatal dan negatif. Saya melihat asmara online itu tidak ada manfaatnya,” katanya.

Lain Khafidah lain lagi Abdil, anak muda berusia 26 tahun ini punya pendapat berbeda.

“Versi asmara itu banyak dan sekarang yang lagi booming memang asmara online. Intinya sih sama saja menurut saya. Tapi itu kembali ke masing-masing individu. Toh enak sama enak kuncinya,” ujarnya.

“Menurut saya asmara online-kan bercerita indah atau kolak-kolak gomballah. Apa bedanya dengan telponan dan lainnnya. Sekarang yang beda cuma media dan istilahnya saja. Masa-masa saya dulu YM-an,” kata pemuda yang tinggal di Gampong Ateuk Meunjeng, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh ini.   

Ketika ditanyakan pernah-tidaknya ia menjalin hubungan asmara online, Abdil terbahak-bahak. “Cuma memanfaatkan fasilitas yang ada,” katanya.

“Kalau jumpa, ya, itu pasti. Selama jarak masih bisa ditempuh. Tapi selanjutnya tergantung kitanya dari masing-masing individu juga. Tapi menurut saya rata-rata pertemuan menghasilkan 70% hubungan selanjutnya. Karna pada dasarnya kita ketemuan karena ada kecocokan bahasa penyampaian dan kesamaan cerita walaupun didasari berbagai hal,” ujar alumni Fakultas Pertanian Unsyiah ini.[] ihn

related posts